Aroma Pilkada Menyengat Bau Kolonial

Ketergantungan Pangreh Praja, sebagai struktur pemerintahan dibawah Gubernur Djendral kolonial Belanda, terhadap Cina sebagai pemilik modal memang sengaja diciptakan. Dimana seorang pribumi yang hendak menjadi Lurah atau Bupati dibawah pengaruh Gubernur Djendral atas sistem pemerintahan kolonial Belanda yang disyaratkan harus memiliki sejumlah uang. Adapun pendanaan dari pemilik modal terhadap pribumi ini terbilang ilegal, sebab tidak berdasarkan perintah langsung dari Gubernur Djendral. Hal ini dikenal sebagai "Pendanaan Ilegal Kepala Daerah" atau "Pilkada" Zaman Kolonial Belanda. Demikian juga penuturan Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajurit di dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, bahwa bahkan sekedar calon Lurah pun, harus memiliki sejumlah uang (GBP/Poundsterling) £.700, - sampai £.1000, -. Dimana £.200,- dipersembahkan kepada Bupati, £.100,- untuk Wedana, £.25,- dipersembahkan untuk jurutulis Controleur, dan sisanya untuk mensejahterakan ese...

Logical Fallacy: Tuding Bahasa Arab sebagai ciri Terorisme, bisa dibilang Kaitologi.

https://twitter.com/hambaallah_411

Alih-alih menjaga NKRI - Berangkat dari ketakutan yang berlebihan, -sejak kelompok Taliban mulai menguasai beberapa wilayah di Afghanistan setelah AS menarik mundur pasukannya-, penguasa di Negara kita kerap memperketat sistim keamanan sebagai bentuk antisipasi agar tidak terjadi hal yang serupa sebagaimana yang terjadi di Afghanistan. Ragam kebijakan mulai diterapkan sebagai bentuk pelemahan terhadap kaum fatalistik. Dan benar saja, bahkan dalam lingkup terkecil, sebagaimana surat edaran No. B-2330.1/DJ.I/Dt.I.III/HM.01/08/2021, perihal Penyelenggaraan PBAK Tahun Akademik 2021/2022. 


Isi surat yang mengatur tata pelaksanaan PBAK secara daring yang dilayangkan oleh Dirjen Pendis tersebut, disisi lain memuat materi-materi tentang “Memperkuat komitmen pada Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan mengembangkan kecintaan kepada ilmu pengetahuan dan teknologi serta merespon perkembangan…, dan seterusnya”, yang hendaknya disosialisasikan pada saat pelaksanaan PBAK. 


Hal ini terbilang positif dalam kontek memperkokoh dan menjaga kesatuan NKRI, -meski secara implisit dapat diterjemahkan sebagai upaya memudarkan nilai-nilai keislaman. Dari hal-hal yang sederhana semacam ini dianggap sebagai cikal-bakal munculnya kelompok ekstrimis. 


Ketakutan semacam ini malah akan mendiskredit pihak lain. Dan benar saja, salah seorang pengamat intelijen menuding Bahasa Arab sebagai ciri teorisme. Kaitologi semacam ini merupakan wujud kesesatan nalar dalam berpikir logic. Masa iya? Komponen-komponen kecil semacam itu dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kekejaman kelompok ektrimis. Belum lagi, jika kita bicara tentang Grand Design-nya.


Ungkapan tudingan tersebut telah diklarifikasi oleh pihak yang bertanggungjawab sebagaimana dilansir dari Republika.co.id. Meski demikian, saya meyakini bahwa akan ada nada yang serupa, yang mendiskredit pihak tertentu, masih dengan motif yang sama. Bukan apa-apa, tapi saya melihat ketakutan ini terlalu akut, dan tergopoh-gopoh untuk diekspresikan. Akan ada gelagat buruk yang malah akan mencidrai kesatuan NKRI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seruan Revolusi: Indonesia dititik Nadir

Vaksinasi: belenggu administratif

Indonesia Siaga Satu: Gorontalo Bergerak!!!