Aroma Pilkada Menyengat Bau Kolonial

Ketergantungan Pangreh Praja, sebagai struktur pemerintahan dibawah Gubernur Djendral kolonial Belanda, terhadap Cina sebagai pemilik modal memang sengaja diciptakan. Dimana seorang pribumi yang hendak menjadi Lurah atau Bupati dibawah pengaruh Gubernur Djendral atas sistem pemerintahan kolonial Belanda yang disyaratkan harus memiliki sejumlah uang. Adapun pendanaan dari pemilik modal terhadap pribumi ini terbilang ilegal, sebab tidak berdasarkan perintah langsung dari Gubernur Djendral. Hal ini dikenal sebagai "Pendanaan Ilegal Kepala Daerah" atau "Pilkada" Zaman Kolonial Belanda. Demikian juga penuturan Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajurit di dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, bahwa bahkan sekedar calon Lurah pun, harus memiliki sejumlah uang (GBP/Poundsterling) £.700, - sampai £.1000, -. Dimana £.200,- dipersembahkan kepada Bupati, £.100,- untuk Wedana, £.25,- dipersembahkan untuk jurutulis Controleur, dan sisanya untuk mensejahterakan ese...

pemerintah telat dalam menangani Covid-19

 

Lonjakkan kasus Covid-19 di tanah air semakin menggila. Sejak Maret 2020 sampai sekarang ini, ketambahan kasus Covid-19 kurang lebih mencapai 44.721, maka total jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 2.877.476. - Dikutip dari CNN Indonesia (Minggu,18/07/2021). Dengan lonjakan kasus yang nyaris tidak terkendali, pemerintah berinisiatif untuk melakukan pembatasan aktivitas dengan terma-terma berbagai rupa, yang hari ini dikenal dengan istilah PPKM Darurat.

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM Darurat) yang dimulai sejak tanggal 3 Juli sampai 20 Juli, dengan eskalasi yang demikian, bakal turut mengamini perpanjangan PPKM yang katanya sampai akhir juli. Wacana yang demikian itu menuai kontroversi. Muhadjir Effendy sebagai Menko PMK menyampaikan tentang adanya perpanjangan PPKM sampai dengan akhir juli. Hal tersebut di sampaikan ketika Muhadjir berkunjung ke Universitas Gadjah Madah (UGM) Yogyakarta, Jum’at (16/07/2021). Hanya saja, Menteri Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa kepastian perpanjangan tersebut baru akan disampaikan 2-3 hari setelahnya.

Disamping itu, dengan adanya lonjakan kasus yang nyaris tak terkendali, tidak sedikit para nakes yang mengibarkan bendera putih dengan berbagai alasan, terutama masalah insentif dan sejenisnya. Hal ini mungkin yang memicu tindakan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan menambah anggaran untuk jaring keamanan saat ini, diantaranya merupakan insentif tenaga kesehatan (Nakes) dan Kartu Prakerja, sebagaimana dilansir dari KumparanBISNIS.

Perlu kita garis bawahi bahwa adanya Kartu Prakerja bukan untuk menggaji para pengangguran, akan tetapi untuk membiayai pelatihan bagi siapa yang melakukan registrasi untuk mempersiapkan tenaga kerja yang ideal, sehingga Indonesia bakal mampu memiliki tenaga kerja yang produktif. Sehingganya, wajar saja jika kebanyakan tenaga kerja yang ada di Indonesia adalah tenaga kerja asing – meski pekerjaan kasar sekalipun,  mungkin dengan pertimbangan yang tadi itu.

Lagi-lagi masyarakat didorong untuk berpikir kritis. Betapa tidak, dengan adanya pemberlakuan PPKM Darurat ini, dimana masyarakat diwajibkan dengan berbagai persyaratan, pun dikagetkan dengan kedatangan TKA China pada awal juli kemarin. Hal ini jelas memancing kecurigaan, mengingat kondisi masyarakat yang dikungkung sedemikian rupa, malah pemerintah menerima kedatangan TKA. Tentu saja, kecemburuan terhadap perlakuan pemerintah tidak terelakkan, termasuk kecurigaan akan motif dari PPKM ini, belum lagi masalah prosedur kedatangan TKA termasuk protkes dan sejenisnya.

 Pro-kontra terkait kedatangan TKA tersebut, sebagaimana yang disiarkan oleh TvOne dalam Catatan Demokrasi, dengan menghadirkan beberapa narasumber, termasuk Musni Umar sebagai Sosiolog dan Deddy Sitorus sebagai Politisi PDI-P, (6/7/2021). Dengan mengelak pernyataan Musni Umar tentang kedatangan China yang termasuk juga merupakan sebab perkembangan Covid-19 di Indonesia, politisi PDI-P, dengan dalih kemanusian menganggap tidak ada hubungan antara kedatangan TKA China dengan penyebaran Covid-19.  

Kita lihat, langkah yang diambil oleh negara China merespon kemunculan Covid di negaranya sejak akhir 2019. Pada awal tahun 2020, tepatnya pada 23 Januari, mereka menerapkan lockdown, sampai waktu yang ditentukan, dan mereka terbilang berhasil mengatasi hal ini. China kemudian menjadi rujukan beberapa negara terutama yang ada di Eropa, tentang proses penanganan Covid-19, sehingga kita sendiri bisa menyaksikan keberhasilan mereka dengan menyaksikan piala Eropa 2020 yang baru dilaksanakan pada tahun 2021. Sementara, beberapa negara yang merujuk ke China, berhasil mengatasi masalah ini. Meski negara-negara tersebut belum terbebas dari Covid 100%. Namun kita lihat, kondisi mereka tidak seperti di negara kita. Bahkan beberapa negara tidak lagi mewajibkan masker.

Kita lihat beberapa negara yang menjadi tuan rumah dalam ajang piala Eropa kemarin, kita bandingkan dengan Indonesia, termasuk China, per 1juta penduduk, dari Januari hingga Juli 2021...,

Jumlah terkonfirmasi

https://ourworldindata.org/explorers/coronavirus-data-explorer?zoomToSelection=true&time=2020-03-01..latest&pickerSort=asc&pickerMetric=location&Metric=Confirmed+cases&Interval=7-day+rolling+average&Relative+to+Population=false&Align+outbreaks=false&count

...bahwa Belanda dan Spanyol adalah negara yang turut berpartisipasi dalam piala Eropa kemarin. Namun kondisi kita lebih parah dari mereka yang baru selesai ber-euforia? Bahkan ada beberapa negara yang mengatur tentang penolakan kedatangan warga negara Indonesia sampai dengan waktu tertentu, dan bahkan ada yang sampai dengan waktu yang belum ditentukan.

Kami kerap mempertanyakan motif pemerintah yang tak kunjung melaksanakan lockdown sejak kemunculannya hingga saat ini. Yang ada selama ini hanyalah pembatasan bagi rakyat biasa dengan berbagai istilah. Kami tidak ingin beranggapan bahwa terma-terma pembatasan adalah wujud ketidak-relaan pemerintah menafkahi rakyatnya. Padahal yang demikian ini jelas diatur dalam Undang-Undang nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Apakah pemerintah menganggap bahwa lockdown tidak efektif, sebagaimana pernyataan Deddy Sitorus dalam diskusi tersebut?

Perlu kami sampaikan, bahwa pemberlakuan PPKM yang bias ini tidaklah efektif. Kami menganggap pemerintah telat dalam mengambil keputusan. Mungkin kondisinya akan berbeda jika lockdown diterapkan pada awal-awal kemunculan virus ini. Untuk sekarang, pasti ceritanya berbeda. Bahkan berbagai pembatasan sosial yang diterapkan selama ini, banyak kita dapati keluhan dari masyarakat, apalagi jika lockdown baru akan diterapkan akhir-akhir ini. Meski demikian, hal tersebut tidak menutup kemungkinan, namun pemerintah harus mempertimbangkannya secara matang, harus serius, dan konsisten dengan kebijakan tersebut.

Sampai hari ini, terdapat banyak kejadian berupa penolakan terhadap pemberlakuan PPKM ini. Ditambah dengan wacana perpanjangan sampai akhir juli. Maaf-maaf saja, bukannya rakyat tidak mau agar kondisi paceklik ini segera usai. Namun kondisi semacam ini membikin resah, rakyat dibuat kaku dan merasa di anak tirikan. Dan hal itu akan cepat redam dengan hadirnya udara segar berupa bantuan sosial, BLT desa,  atau yang sejenis dengannya, yang tidak semua menerima manfaatnya. Mana lagi bantuan yang demikian rentan mengalami pengurangan dari yang semestinya. Sehingga mendorong masyarakat untuk tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, meski kerap direpresi.

Menghadapi situasi ini, pemerintah harus lebih terbuka dengan menerima kritik dan saran dari luar istana, dengan tetap memperhatikan budaya tatakrama. Entah itu mahasiswa, pengusaha, pakar ekonom, pakar kesehatan, dan lain sebagainya. Sebagiamana pakar ekonom RR, menyarankan agar penguasa bisa mencontoh kebijakan yang diambil pemerintah daerah, dengan mengalokasikan dana infrastruktur untuk membantu kebutuhan pokok harian dan rakyat miskin, termasuk juga dana SAL dan dana SILPA, sebagaimana yang dilakukan gubernur Jawa Barat dalam penanganan Covid-19. Saran- Hal ini perlu dikaji secara serius, sebab pemerintah yang lebih memahami hal itu. Dan harus terbuka, tentang alasan dan pertimbangan dari saran-saran yang dihidangkan.

Kami harap, pemerintah melakukan hal-hal yang semestinya dalam mengatasi situasi sulit ini, yaitu dengan menitik-beratkan pada penangan Covid-19. Tidak dengan membagi fokus ke hal-hal yang lainnya.  

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seruan Revolusi: Indonesia dititik Nadir

Vaksinasi: belenggu administratif

Indonesia Siaga Satu: Gorontalo Bergerak!!!