Aroma Pilkada Menyengat Bau Kolonial

Ketergantungan Pangreh Praja, sebagai struktur pemerintahan dibawah Gubernur Djendral kolonial Belanda, terhadap Cina sebagai pemilik modal memang sengaja diciptakan. Dimana seorang pribumi yang hendak menjadi Lurah atau Bupati dibawah pengaruh Gubernur Djendral atas sistem pemerintahan kolonial Belanda yang disyaratkan harus memiliki sejumlah uang. Adapun pendanaan dari pemilik modal terhadap pribumi ini terbilang ilegal, sebab tidak berdasarkan perintah langsung dari Gubernur Djendral. Hal ini dikenal sebagai "Pendanaan Ilegal Kepala Daerah" atau "Pilkada" Zaman Kolonial Belanda. Demikian juga penuturan Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajurit di dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, bahwa bahkan sekedar calon Lurah pun, harus memiliki sejumlah uang (GBP/Poundsterling) £.700, - sampai £.1000, -. Dimana £.200,- dipersembahkan kepada Bupati, £.100,- untuk Wedana, £.25,- dipersembahkan untuk jurutulis Controleur, dan sisanya untuk mensejahterakan ese...

Pulang: Detik-Detik Kerinduan

ingin pulang        
        Menyambut hari yang fitri, momen bahagia yang paling dinanti-nanti, oleh semua, siapapun ia, rindu itu berlaku untuk semua. Motifnya pun beragam, tergantung harapan dan ketakutan masing-masing. Dari mereka yang berharap kondisi rumahnya masih tetap sama, hingga mereka yang takut bilamana rasa yang ada, tak lagi sama.
       Kali ini masih diperhadapkan dengan situasi yang sama. Entah, kita sebut ini episode 2 atau 3, yang jelas kondisinya serupa. Pun, dibumbui kebijakan yang nyaris senada. Mungkinkah, dengan hal-hal yang sama ini akan lebih efektif dari yang sebelumnya? Ataukah mungkin, karena bentuknya sama, maka perwujudannya akan sama seperti yang sudah-sudah? Pemangku kebijakan tentunya berharap agar kali ini lebih efektif dari yang kemarin, dan harapan itu mungkin berbeda dengan yang lainnya. Tergantung kacamata apa yang digunakan. Sebab bagaimanapun -- “kacamata itam nynda sama dengan kacamata ikang”. Disamping itu, kita tentunya mengharapkan yang terbaik bagi kita semuanya.
        Dalam mode pemenuhan --rindu ingin pulang— ini, tergantung apanya yang dirindukan. Jika yang dirindukan adalah masakan rumah, selesai mencicipinya maka selesai pula kebahagian-rindunya. Akan tetapi, jika yang dirindukan adalah kebersamaan dengan keluarga, maka kebahagian itu akan senantiasa terjaga, dan bisa jadi enggan berpisah. Dari sini, dapat dipastikan bahwa kebersamaan dengan keluarga adalah kebahagian jiwa, dan makanan tadi adalah kebahagian raga. Raga lebih condong kepada fisiknya, sedangkan jiwa lebih ke yang sifatnya batiniyah. Dan batin senantiasa kekal adanya dibandingkan fisik yang sementara. Dalam artian, bahwa yang kekal adalah yang lebih utama dari yang sementara.
        Meski demikian adanya, tidak mudah menerima kenyataan bahwa kebersamaan dengan keluarga lebih utama dari pada sekedar mencicipi masakan rumah dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Maka tidak salah, bahwa agenda pulang hanya sebatas agenda pemenuhan rindu, dan baru akan muncul lagi ketika tengah berpisah. Sehingga menjelang perpisahan adalah detik-detik kerinduan akan hilangnya kebahagian jiwa. Setelah lama berpisah kemudian akan membayangkan kebahagian tadi sebagai sesuatu yang sangat-sangat merindukan, yang mendorong semangat untuk cepat-cepat ingin kembali pulang. 
        Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran akan betapa rasa rindu itu mendorong kita mencapai kebahagian. Jika dengan membayangkan kebahagian akan melahirkan kerinduan untuk pulang ke rumah, akankah sama halnya dengan kembali pulang kepada-Nya. Betapa jiwa ini terpenjara oleh raga. Sebab dalam gelutnya, raga yang didasari dengan keinginan fisik kerap mendominasi laku kita. Bagaimana cara menyadari akan keistimewaan diri kita yang dapat mengendalikan seluruh komponen baik jasmani maupun rohani, agar cenderung kepada fitrah-Nya. 
        Disamping itu, kita masih sulit menerima keistimewaan diri. Tidak pernah ada agenda untuk mengafirmasi entitas ruh di dalam jasad ini. Pun, tidak sedikit diantara kita yang tidak menyadari akan kemaujudannya. Bagaimana cara untuk membangkitkan kesadaran yang demikian itu? Bagaimana mungkin kita berkeinginan pulang sementara kita tidak tahu apa yang harus kita rindukan? Kita bahkan tidak mampu menghadirkan alasan di luar taklid kita. Taklid bukanlah sesuatu yang salah, namun bukankah kita akan lebih merima secara suka rela untuk apa-apa yang tengah kita sadari dari pada sekedar percaya tanpa mengetahui alasannya? Mungkinkah pintu taubat telah ditutup oleh-Nya, atau kita yang terlalu nyaman berlumuran dosa? 
        Hal-hal demikian adalah sesuatu yang patut kita sesali. Tentang betapa ruh kita terbelenggu dan tidak pernah diberikan ruang oleh jasad. Karena kecenderungan kita mengikuti keinginan jasad kita, sehingga semakin jauh kita dari alasan mengapa kita ada disini. Yang patut dipertanyakan selanjutnya adalah, mengapa kita harus menyadari semua itu? Bukankah dengan menjalani hidup sebagaimana adanya, tanpa mementingkan yang demikian itu, akan lebih mudah bagi kita untuk pencapaiannya? Pertanyaan selanjutnya adalah, sejauh mana keikhlasan kita melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui alasannya? Maka hal itu sangatlah penting agar kita bisa secara suka rela dalam lakunya. 
        Bayangkan seseorang yang sedang jatuh cinta, bagaimana pengorbanan yang ia lakukan secara sadar kepada orang yang dicintainya. Tidakkah kita bisa memiliki rasa yang sama seperti si pecinta tadi? Namun, bagaimana rasa itu hadir, sementara kita tidak tahu asal-usul kita? Termasuk alasan tentang mengapa kita harus kembali kepada Allah Swt. dalam keadaan fitrah kita. Ketika Allah menawarkan pilihan tentang mana yang kita inginkan, antara “tinggal di surganya Allah ataukah duduk disamping-Nya?”. Karena kecenderungan fisik kita, pasti kita memilih untuk tinggal di surga. Dengan kemewahan yang sedemikian rupa ditawarkan oleh-Nya yang termaktub di dalam kitab suci kita. Sebab kita tidak dapati alasan mengapa kita harus memilih untuk duduk disisi-Nya, karena sekali lagi kecenderungan kita adalah kecenderungan fisik, paling-paling kita membayangkan sebagaiman kita duduk di samping raja, duduk di samping orang tua kita, tanpa bisa berekspresi secara bebas akan apa-apa yang kita inginkan.
        Orang yang sedang dimabuk cinta adalah analogi yang paling mudah kita pahami. Tentang kembali pulang tadi, mengapa kita harus kembaliu kepada-Nya dengan penuh keikhlasan, tanpa ada penyesalan meninggalkan hasrat keduniaan. Analogi sederhana yang dapat kita tarik sandinya adalah, tentang kefitrahan laki-laki dan perempuan yang mesti bersatu, sebab awalnya mereka adalah satu, dimana Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam as. Maka demikian dengan diri kita, diri yang sejati, yang terkungkung di dalam jasad ini, mestinya kita mendambakan “kebersatuan” (kembali pulang) dengan-Nya, sebab kita adalah bagian dari-Nya. Kita tengah menyaksikan hal yang demikian itu sebelumnya, hanya saja, lupa adalah niscaya bagi kita, sebagaimana manusia yang dilabeli dalam Bahasa Arab “nasa-yanusu--an-naas” yang artinya “pelupa”, sehingga kata Tuhan dilabeli dengan “robba-yarubbu--robbi” yang artinya “pembimbing”. Maka untuk mengingatkannya, senantiasalah kita menghadirkan-Nya di dalam diri kita, untuk tidak kita dapati kekosongan atas hakikat kehidupan selama di dunia.
        Kemudian tentang tawaran tadi, hal itu hanya mampu dipahami oleh orang yang sudah pernah jatuh cinta. Tentang betapa kebahagian menyelimuti dirinya, ketika ia berada disisi orang yang dicintainya. Maka hendaklah ia berbahagia, ketika berada disamping-Nya, yang demikian itu merupakan alasan atas semua ini.;


Wahai jiwa yang sempurna
Kapankah aku bisa menganggap mu adalah aku?
Sungguh betapa jarak ini membuat ku kaku
aku menyadari tentang kebodohan ku,
Tentang raga yang membelenggu ku
Tentang aku yang belum lagi mengenal diri Ku.
Maukah engkau berkenalan dengan ku
Bukankah Tuhan mu telah meridhai itu? 
Bukankah kau adalah yang paling dekat dengan-Nya
Dan kau, yang ditiupkan-Nya padaku
Bagaimana cara agar aku dapat menyadari semua itu
aku telah menghayalkan kerinduan
sebagaimana sang anak yang rindu kepada kedua orang tuanya
aku telah memikirkan ketakutan
sebagaimana takutnya seseorang yang tersesat di hutan 
aku telah membayangkan kehampaan
Sebagaimana hampanya si pencinta yang kehilangan orang yang dicintanya
Namun tak lain aku semakin jauh dengan kesombonganku
Wahai jiwa yang bersemayam di dalam jasad
Semoga perasaan ini tetap terjaga
Sampai aku benar-benar mengenali mu
Mintalah pada Tuhan mu agar aku tetap hidup,
Itu merupakan hukuman bagi ku
Atas kesombongan ku
Yang enggan menerima kebenaran. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seruan Revolusi: Indonesia dititik Nadir

Vaksinasi: belenggu administratif

Indonesia Siaga Satu: Gorontalo Bergerak!!!