Aroma Pilkada Menyengat Bau Kolonial

Ketergantungan Pangreh Praja, sebagai struktur pemerintahan dibawah Gubernur Djendral kolonial Belanda, terhadap Cina sebagai pemilik modal memang sengaja diciptakan. Dimana seorang pribumi yang hendak menjadi Lurah atau Bupati dibawah pengaruh Gubernur Djendral atas sistem pemerintahan kolonial Belanda yang disyaratkan harus memiliki sejumlah uang. Adapun pendanaan dari pemilik modal terhadap pribumi ini terbilang ilegal, sebab tidak berdasarkan perintah langsung dari Gubernur Djendral. Hal ini dikenal sebagai "Pendanaan Ilegal Kepala Daerah" atau "Pilkada" Zaman Kolonial Belanda. Demikian juga penuturan Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajurit di dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, bahwa bahkan sekedar calon Lurah pun, harus memiliki sejumlah uang (GBP/Poundsterling) £.700, - sampai £.1000, -. Dimana £.200,- dipersembahkan kepada Bupati, £.100,- untuk Wedana, £.25,- dipersembahkan untuk jurutulis Controleur, dan sisanya untuk mensejahterakan ese...

Kritik Society (Menjawab Patologi Sosial Hari Ini)

 Pada hakikatnya, manusia memiliki ide bawaan sebagai dasar pengetahuan manusia untuk menjawab berbagai macam fenomena dimuka bumi. Beberapa filusuf menyebutnya sebagai idealisme, paradigma, serba ruh, dan sebagainya.  Dalam sejarah Islam, peristiwa ini dikenal ketika penciptaan manusia pertama (Adam as), “wa ‘alama ādamal asmāa kullaha…” “dan Dia (Allah) ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…” (QS. al-Baqarah:31) sebelum diturunkannya Adam sebagai khalifah dimuka bumi. Dengan adanya ide bawaan inilah manusia melakukan sesuatu yang kemudian disadari sebagai dasar pengetahuan. Manusia merupakan pengejawantahan tuhan yang bertanggung jawab terhadap kelestarian tempat kita berpijak. Segala macam bentuk ciptaan yang ada di alam semesta merupakan limpahan dari-Nya, dan manusia adalah masterpiece-Nya tuhan yang Maha Kuasa, Allah Subhaanahuwata’ala. Ilmu pengetahuan telah mengangkat derajat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dari semua ciptaan-Nya.

            Pada hakikatnya, manusia memiliki ide bawaan sebagai dasar pengetahuan manusia untuk menjawab berbagai macam fenomena dimuka bumi. Beberapa filusuf menyebutnya sebagai idealisme, paradigma, serba ruh, dan sebagainya.  Dalam sejarah Islam, peristiwa ini dikenal ketika penciptaan manusia pertama (Adam as), “wa ‘alama ādamal asmāa kullaha…” “dan Dia (Allah) ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…” (QS. al-Baqarah:31) sebelum diturunkannya Adam sebagai khalifah dimuka bumi. Dengan adanya ide bawaan inilah manusia melakukan sesuatu yang kemudian disadari sebagai dasar pengetahuan. Manusia merupakan pengejawantahan tuhan yang bertanggung jawab terhadap kelestarian tempat kita berpijak. Segala macam bentuk ciptaan yang ada di alam semesta merupakan limpahan dari-Nya, dan manusia adalah masterpiece-Nya tuhan yang Maha Kuasa, Allah Subhaanahuwata’ala. Ilmu pengetahuan telah mengangkat derajat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dari semua ciptaan-Nya.

Urgensi pengetahuan oleh KH. Hasyim Asy’arie adalah untuk mempertahankan predikat manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Pengetahuan membuat subjek lebih jeli dalam melakukan penalaran terhadap suatu peristiwa. Adanya pengetahuan tidak menjadikan manusia kaku, takut, dan penurut tanpa ada kejalasan. Manusia, sebagai makhluk yang dilabeli Aristoteles sebagai animal rational, sedikit kasar memang jika diterima dengan indera manusia, akan tetapi menunjang predikat makhluk yang mulia melalui kacamata akal. Bahwa manusia adalah makhluk yang diberikan kebebasan untuk berfikir dan melakukan penalaran terhadap apa yang ada disekelilingnya. Hal-hal yang bersifat teknis dan sistematis secara spontan akan diaminkan oleh akal yang terbatas. Keterbatasan akal oleh Kant, ketika ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang tidak terjangkau oleh akal, seperti “apakah jiwa itu kekal? Apakah Tuhan itu satu? Apakah alam itu terbatas? Dan sebagainya. Sebab ini bersifat sintetik-apriori, yaitu fenomena nyata yang disandarkan pada sesuatu yang abstrak. Maka penarikan konklusi dari jawaban-jawaban tersebut bersifat Tautologi. Dalam prisip Ontologi, akal terbatas pada hal-hal yang sifatnya metafisik. Sejatinya, akal dalam melakukan penalaran tidaklah terbatas, yang terbatas adalah penggunaan manusia terhadap akal itu sendiri. Ketika sesuatu yang bersifat teknis dan sistematis ini, dikonstruksikan oleh akal dan diaminkan lewat jalur panca indera maka manutlah sudah. Mulai menghakimi sesuatu yang sifatnya spekulatif, dan disisi inilah kenampakkan akal yang terbatas.
Patologi sosial hari ini, masyarakat sering menghakimi satu diantaranya akibat derasnya arus sistem, tanpa memerhatikan nilai etis yang berguguran. Mengamini berbagai macam peristiwa dengan irama-irama spekulatif. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan terhadap topik pembahasannya. Bloom, seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa “kita harus tahu persis apa yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui, sehingga kita tidak dikacaukan oleh keduanya.” Berbeda dengan hari ini, semua hal dibahas tanpa menelusuri yang sebenarnya, dan akhirnya melahirkan kesimpulan yang keliru. Hal ini mustahil terjadi dengan adanya pengetahuan yang memadai. Untuk merubah mekanisme ini harus diawali dengan pola pikir yang baru melalui pengetahun yang luas dengan menggeser sedikit alur penalaran kita sehingga tidak dengan mudah kita menghakimi apalagi mengamini sesuatu yang jelas-jelas punya hak cela untuk dikritisi, ditelusuri dan diperbaiki.
Sebagai manusia yang dibekali akal oleh sang Maha Cipta, sebaiknya kita merawat sifat sebagai subjek yang terbuka, bukan objek yang tertutup. Sesuatu yang diaminkan hari ini harusnya bersifat tentatif, dengan menanamkan rasa ingin tahu dan rasa ragu dalam diri kita, akan sangat memungkinkan kita dalam mencapai kebenaran yang sempurna. Adanya ide bawaan dalam jiwa kita sebagai modal utama yang harus dikelola dalam menulusuri konteks fenomena. Menamkan sifat keragu-raguan dengan berbagai rangkaian pertanyaan dalam otak kita untuk tidak menghakimi sesuatu sebelum jelas duduk persoalannya.
Rene Descartes dengan teorinya “Corgito Ergo Sum” yang artinya Aku Berpikir, Maka Aku Ada, berangkat dari sifat skeptis-nya terhadap segala macam fenomena yang olehnya tidak pasti, dan pada puncaknya ia menarik konklusi bahwa meski yang semua hal yang telah ia ragukan sifatnya tidak pasti, namun ada sesuatu yang pasti, yaitu Aku, sebagai subjek yang meragukannya. Hal ini menggambarkan bahwa betapa pentingya merangsang diri untuk menelusuri sesuatu dengan bermodalkan pengetahuan yang berangkat dari keragu-raguan terhadap sesuatu itu, yang kemudian hasil penelusuran tersebut menjadi suatu pengetahuan yang sejati. Bukan tentang teori dan konklusinya yang harus kita imani, akan tetapi alur penalarannya yang patut kita ikuti. Sebab yang terpenting dalam pengetahuan adalah  munculnya sifat skeptis yang merangsang diri untuk menulusuri sesuatu yang hakiki. Ketahuilah bahwa ada banyak hal manis yang tidak semuanya gula, sering kali bersifat subjek relatif.

Perlu kita ingat bahwa pengetahuan telah mengangkat derajat islam dan barat berusaha memperoleh pengetahuan tersebut sehingga kedudukan menjadi terbalik, ini menandakan betapa pentingnya pengetahuan dalam peradaban manusia. Maka pelajari banyak hal dan gunakan itu dalam keseharian kita, karena yang terpenting bukan sebatas banyaknya pengetahuan yang diperoleh, akan tetapi seberapa mungkin pengetahuan tersebut digunakan. Jadikanlah pengetahuan sebagai kebutuhan, bukan sekedar asupan. Sama halnya dengan makan sebagai kebutuhan yang memola tumbuh-kembangnya sifat jasmaniah, maka pengetahuan akan memola sifat rohaniah sebagai manusia yang ber-akhlakul karimah, rahmat bagi seluruh alam semesta.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seruan Revolusi: Indonesia dititik Nadir

Vaksinasi: belenggu administratif

Indonesia Siaga Satu: Gorontalo Bergerak!!!