Pada
hakikatnya, manusia memiliki ide bawaan sebagai dasar pengetahuan manusia untuk
menjawab berbagai macam fenomena dimuka bumi. Beberapa filusuf menyebutnya
sebagai idealisme, paradigma, serba ruh, dan sebagainya. Dalam sejarah Islam, peristiwa ini dikenal ketika
penciptaan manusia pertama (Adam as), “wa ‘alama ādamal asmāa kullaha…” “dan
Dia (Allah) ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya…” (QS. al-Baqarah:31)
sebelum diturunkannya Adam sebagai khalifah dimuka bumi. Dengan adanya ide
bawaan inilah manusia melakukan sesuatu yang kemudian disadari sebagai dasar
pengetahuan. Manusia merupakan pengejawantahan tuhan yang bertanggung jawab
terhadap kelestarian tempat kita berpijak. Segala macam bentuk ciptaan yang ada di alam semesta
merupakan limpahan dari-Nya, dan manusia adalah masterpiece-Nya tuhan yang Maha Kuasa, Allah Subhaanahuwata’ala. Ilmu pengetahuan telah mengangkat
derajat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dari semua ciptaan-Nya.
Urgensi
pengetahuan oleh KH. Hasyim Asy’arie adalah untuk mempertahankan predikat
manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Pengetahuan membuat subjek lebih
jeli dalam melakukan penalaran terhadap suatu peristiwa. Adanya pengetahuan
tidak menjadikan manusia kaku, takut, dan penurut tanpa ada kejalasan. Manusia,
sebagai makhluk yang dilabeli Aristoteles sebagai animal rational, sedikit
kasar memang jika diterima dengan indera manusia, akan tetapi menunjang
predikat makhluk yang mulia melalui kacamata akal. Bahwa manusia adalah makhluk
yang diberikan kebebasan untuk berfikir dan melakukan penalaran terhadap apa
yang ada disekelilingnya. Hal-hal yang bersifat teknis dan sistematis secara
spontan akan diaminkan oleh akal yang terbatas. Keterbatasan akal oleh Kant,
ketika ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang tidak terjangkau oleh akal,
seperti “apakah jiwa itu kekal? Apakah Tuhan itu satu? Apakah alam itu
terbatas? Dan sebagainya. Sebab ini bersifat sintetik-apriori, yaitu fenomena
nyata yang disandarkan pada sesuatu yang abstrak. Maka penarikan konklusi dari
jawaban-jawaban tersebut bersifat Tautologi. Dalam prisip Ontologi, akal
terbatas pada hal-hal yang sifatnya metafisik. Sejatinya, akal dalam melakukan
penalaran tidaklah terbatas, yang terbatas adalah penggunaan manusia terhadap
akal itu sendiri. Ketika sesuatu yang bersifat teknis dan sistematis ini,
dikonstruksikan oleh akal dan diaminkan lewat jalur panca indera maka manutlah
sudah. Mulai menghakimi sesuatu yang sifatnya spekulatif, dan disisi inilah
kenampakkan akal yang terbatas.
Patologi sosial hari ini, masyarakat sering menghakimi
satu diantaranya akibat derasnya arus sistem, tanpa memerhatikan nilai etis
yang berguguran. Mengamini berbagai macam peristiwa dengan irama-irama
spekulatif. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan terhadap topik
pembahasannya. Bloom, seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa “kita harus tahu
persis apa yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui, sehingga kita tidak
dikacaukan oleh keduanya.” Berbeda dengan hari ini, semua hal dibahas tanpa
menelusuri yang sebenarnya, dan akhirnya melahirkan kesimpulan yang keliru. Hal
ini mustahil terjadi dengan adanya pengetahuan yang memadai. Untuk merubah
mekanisme ini harus diawali dengan pola pikir yang baru melalui pengetahun yang
luas dengan menggeser sedikit alur penalaran kita sehingga tidak dengan mudah
kita menghakimi apalagi mengamini sesuatu yang jelas-jelas punya hak cela untuk
dikritisi, ditelusuri dan diperbaiki.
Sebagai manusia yang dibekali akal oleh sang Maha Cipta, sebaiknya kita merawat sifat sebagai subjek yang terbuka,
bukan objek yang tertutup. Sesuatu yang diaminkan
hari ini harusnya bersifat tentatif, dengan menanamkan rasa ingin tahu dan rasa ragu dalam
diri kita, akan sangat memungkinkan kita dalam mencapai kebenaran yang
sempurna. Adanya ide bawaan dalam jiwa kita
sebagai modal utama yang harus dikelola dalam menulusuri konteks fenomena. Menamkan
sifat keragu-raguan dengan berbagai rangkaian pertanyaan dalam otak kita untuk
tidak menghakimi sesuatu sebelum jelas duduk persoalannya.
Rene Descartes dengan teorinya “Corgito Ergo Sum”
yang artinya Aku Berpikir, Maka Aku Ada, berangkat dari sifat skeptis-nya terhadap
segala macam fenomena yang olehnya tidak pasti, dan pada puncaknya ia menarik
konklusi bahwa meski yang semua hal yang telah ia ragukan sifatnya tidak pasti,
namun ada sesuatu yang pasti, yaitu Aku, sebagai subjek yang meragukannya. Hal
ini menggambarkan bahwa betapa pentingya merangsang diri untuk menelusuri
sesuatu dengan bermodalkan pengetahuan yang berangkat dari keragu-raguan
terhadap sesuatu itu, yang kemudian hasil penelusuran tersebut menjadi suatu
pengetahuan yang sejati. Bukan tentang teori dan konklusinya yang harus kita
imani, akan tetapi alur penalarannya yang patut kita ikuti. Sebab yang
terpenting dalam pengetahuan adalah munculnya sifat skeptis yang merangsang diri untuk
menulusuri sesuatu yang hakiki. Ketahuilah bahwa ada banyak hal manis yang
tidak semuanya gula, sering kali bersifat subjek relatif.
Perlu kita ingat bahwa pengetahuan telah mengangkat derajat
islam dan barat berusaha memperoleh pengetahuan tersebut sehingga kedudukan
menjadi terbalik, ini menandakan betapa pentingnya pengetahuan dalam peradaban
manusia. Maka pelajari banyak hal dan gunakan itu dalam keseharian kita, karena
yang terpenting bukan sebatas banyaknya pengetahuan yang diperoleh, akan tetapi
seberapa mungkin pengetahuan tersebut digunakan. Jadikanlah pengetahuan sebagai
kebutuhan, bukan sekedar asupan. Sama halnya dengan makan sebagai kebutuhan
yang memola tumbuh-kembangnya sifat jasmaniah, maka pengetahuan akan memola
sifat rohaniah sebagai manusia yang ber-akhlakul karimah, rahmat bagi
seluruh alam semesta.
MANTAPMII
BalasHapus